First :)

Ini adalah penerbangan kali pertama bagi saya.

Setelah sekian lama mendambakan terbang dan melihat awan secara dekat, akhirnya beberapa bulan yang lalu tercapai juga.

Saya bahkan tidak perlu mengeluarkan uang sepeser pun untuk membuat impian saya itu terwujud. Beberapa hari sebelum dipanggil untuk memenuhi undangan KemenDikbud dalam rangka penganugerahan pemenang lomba kepenulisan, saya sama sekali tidak membayangan untuk mendapatkannya.

Saat tiba di Bandara Solo, saya sudah deg-deg’an sekali. Berbagai macam pikiran negatif sudah melayang-layang di benak saya. Tapi syukurlah, guru pendamping saya berusaha untuk menenangkan. Walaupun saya tahu, beliau sebenarnya juga ketakutan.

Di atas ketinggian beberapa ribu kaki, saya terus berdoa. Dari jendela saya bisa menikmati pemandangan awan yang bergerombol. Nusantara terlihat begitu kecil. Ternyata manusia itu begitu kerdil, tapi terkadang merasa tinggi melebihi langit. Saya tidak mau memejamkan mata barang sedikit pun. Enggan bagi saya untuk melewatkan pemandangan luar, walau hanya terlihat awan seperti sutra putih.

Iklan
Sampingan

Sekilas

Ada satu dua kata yang ingin saya ucapkan, namun tiba-tiba saja mendadak kelu.

Pernah ada bayangan. Sekali. Hanya sekali.

namun kemudian pergi sebelum saya dapat merengkuh.

Terkadang, mengejar tidak harus berlari.

Bukankah merelakan akan lebih baik dari pada kuat mencengkram?

Bisa saja saya melindungi api di bawah hujan dengan kedua telapak tangan.

namun kemudian saya lupa,

Bukankah panah api bisa melukai seluruh jemari saya?

Capuccino

terkadang menikmati kesendirian dengan hanya ditemani segelas cuppucino dingin adalah hal yang cukup mengesankan.
Terkadang saya mudah sekali menjadi sosok yang terlalu bosan dengan kehidupan luar. Mencoba menelaah pada apa-apa yang selama ini sudah saya lakukan. Rasanya tidak ada yang salah. Walaupun sejatinya hati saya selalu saja merasa kosong.
Kekosongan yang entah merindu pada siapa. Kekosongan yang entah bisa dipenuhi dengan apa.
Mungkin segelas Capuccino dengan taburan permen cokelat bisa sedikit menghalau kesendirian yang selama ini saya rasakan. Saya sepenuhnya tahu, bukan kekosongan yang seharusnya diisi dengan nama seseorang yang membuat saya galau sampai guling-guling tidak jelas. 😀
Namun lebih kepada kekosongan.. yang menyebabkan Dia seperti jauh dari saya.
Saya yang hina tanpa kasih-Nya. Saya yang debu tanpa sentuh-Nya…

Mungkin segelas cuppucino bisa menyadarkan saya..
Menyadarkan bahwa sekarang, langkah saya sedikit lebih menjauh dari-Nya..
Kemudian berbalik dan kembali pada jalan yang seharusnya.

Status

Kenangan ketika hujan

Hujan.
Mungkin ia memang sudah ditakdirkan Tuhan untuk membawa kebahagiaan bagi hamba-NYA yang bersyukur.

Sore tadi, selepas mengikuti les terakhir pemantapan UN, saya bersegera untuk pulang.
tapi mendung hitam menggantung di langit kota. Hawa dingin menerpa wajah dari segala arah.
sepertinya hujan akan turun dengan deras, benar saja. Deras sekali, hingga hampir-hampir saya terkena hipotermia.

Mungkin inilah hal bodoh yang sering saya pertanyaan jika datang saat-saat mendesak seperti itu. Yah.. saya memang berbeda dengan teman-teman atau ABG lainnya. Ketika mereka sibuk mengambil motor di tempat parkir, saya malah sibuk menelpon bapak untuk minta segera dijemput. Hanya saya yang melakukan hal itu. Saya memang berbeda. Terkdang ketakutan terhadap jalanan malah mempersulit hidup saya.

Jadilah ketika hujan deras, hawa dingin, langit gelap,mendung, dan mencekam.. tinggal saya satu-satunya perempuan yang masih berdrir di bawah pohon beringin dekat pos keamanan sekolah. Teman-teman saya memutuskan pulang untuk menghindari hujan yang lebih deras. Wah… bukan main was-wasnya hati saya.
Namun tiba-tiba sorot lampu motor menghampiri saya. Tidak hanya satu namun beberapa.

” Kau sendirian? ” Tanya salah satu dari mereka. Saya mengangguk sembari memutar botol air minum yang sengaja saya bawa dari rumah. Beberapa lagi, kemudian datang dan menanyakan hal yang sama. Mereka memutuskan untuk menemani saya.

” Jika saja bapakmu tidak memasang aturan-aturan, sudah tentu aku akan menghantarmu pulang. Detik ini juga, ” Ah.. pernyataan teman laki-laki saya itu terus saja terngiang.
Saya jadi tersenyum ketika mengingat teman laki-laki saya yang setia menunggu sampai bapak datang. Yang setia menemani, bahkan rela kehujanan demi seorang perempuan seperti saya.

Mungkin yang lain beranggapan yang tidak-tidak. Toh, lima laki-laki yang menemani saya ketika hujan deras itu sungguh menghargai keberadaan saya. Mereka menjauh dari posisi saya, namun setiap detik selalu memastikan bahwa saya akan baik-baik saja. Walaupun terkdang mereka juga menakuti saya dengan menampakan hoax.

Terima kasih kepada dandung, yoppy, wahyu, alwi, dan firdaus yang sudah menemani saya hingga bapak menjemput.
Terima kasih karena sudah mengatakan, ” Jangan meninggalkannya. Dia perempuan dan teman baik kita. ”

Terima kasih.

tapi satu yang saya tahu,
Bagimana orang lain menghargai dan memperlakukanmu adalah cerminan bagaimana dirimu menghargai dan memperlakukan dirimu sendiri juga.

Kemudian kita hanyalah gemuruh..

Sekarang saya jadi lebih berangkat sekolah sedikit pagi dari biasanya.
Ternyata lebih menyenangkan, tanpa harus bertemu dengan asap kendaraan dan ibu-ibu cerewet yang jika diberi peringatan untuk tidak menerobos lampu merah malah ngomong ngelantur kemana-mana. 😀

Jalanan memang selalu dikuasai oleh peserta Touring dan mak-mak..
Sekali lagi hari ini saya terlalu menikmati pemandangan kota selagi belum tampak penghuninya.
Ada banyak sekali imajinasi apabila pada akhirnya kota tempat kelahiran saya ini, berakhir dengan sebutan kota mati.
Ah lupakan…

Di salah satu persimpangan jalan menuju jembatan penghubung antara sekolah dengan temapat tinggal saya, ada sosok wajah yang begitu hangat berada di belakang kaca jendela mobil.
Dia memandang ke depan tanpa tahu ada saya di sana.
Syukurlah, karena yang saya harapkan memang demikian.

Sosok yang lima tahun lalu pernah membuat saya hanyut dalam nada tanpa suara.
Sosok yang lima tahun lalu pernah menjitak kepala saya.. Seolah saya ini adalah hewan peliharaannya. 😦

Walau pada akhirnya, semua harus berakhir.. ya semua.
Banyak jalan bercabang yang kami tembuh dengan arah yang berbeda.

Mungkin saya harus mengubah waktu lagi.
Berangkat lebih pagi atau lebih siang dari hari ini.

Sampingan

SKENARIO TERBAIK

Engkau tahu, duhai tetes air hujan, kering sudah air mata, tidur tak nyenyak, makan tak enak, tersenyum penuh sandiwara, tapi biarlah Tuhan menyaksikan semuanya.

Engkau tahu, duhai gemerisik angin,kalau boleh, ingin kutitipkan banyak hal padamu, sampaikan padanya sepotong kata, tapi itu tak bisa kulakukan, biarlah Tuhan melihat semuanya.

Engkau tahu, duhai tokek di kejauhan,setiap kali kau berseru ‘tokekk’, aku ingin sekali menghitung, satu untuk iya, satu untuk tidak, lantas berharap kau berbunyi sekali lagi agar jawabannya ‘iya’, dan berharap kau berhenti jika memang sudah ‘iya’, tapi itu tak bisa kulakukan, biarlah Tuhan mendengar semuanya.

Engkau tahu, duhai retakan dinding,sungguh aku tak tahu lagi berapa dalam retaknya hati ini, besok lusa, mudah saja memperbaiki retakanmu dinding, tinggal ambil semen dan pasir, tapi hatiku, entah bagaimana merekatkannya kembali, tapi biarlah Tuhan menyaksikan semuanya.

Wahai orang-orang yang merindu, maka malam ini, akan kusampaikan sebuah kabar gembira dari sebuah nasehat bijak. Kalian tahu, buku-buku cinta yang indah, film-film roman yang mengharukan, puisi-puisi perasaan yang mengharu biru, itu semua ditulis oleh penulisnya. Maka, biarlah, biarlah kisah perasaan kalian yang spesial, ditulis langsung oleh Tuhan.

Percayakan pada yang terbaik.

–Tere Liye

Patah Hati…. Pada siapa?

Nah, tentang perasaan yang tak berkesudahan lagi kan?
Ujung-ujungnya memang mengenai permasalahan yang satu ini.

Semenjak pagi tadi, mendung terus menggantung di langit-langit kota.
Jendela kelasku sedikit demi sedikit mulai mengembun,
Sebentar lagi hujan pasti turun.

Dan benar saja, ketika hendak memejamkan mata ketika istirahat tiba.. rintik-rinrik air jatuh.
Sontak, perasaanku semakin sendu. Aku memilih menenggelamkan wajah diantara buku-buku yang menumpuk di meja, saat dia datang.Ya,. dia yang selama beberapa bulan ini mengisi hatiku yang terlalu lama kosong.

” Kau patah hati lagi? ” Dia berkata sembari menendang-nendang pelan kakinya ke meja. Aku tersenyum.
Patah hati? mengapa dua kata itu selalu melekat pada pandangannya terhadapku? memangnya pantas ya, dia bertanya seperti itu? Sementara dialah tokoh utama dalam konflik perasaanku.

Sebenarnya, lebih dari patah hati yang kurasakan.
Lebih dari itu. Aku malu pada Pemilik perasaan.
Aku malu ketika terbesit dalam hatiku namamu. Sedang, asma-NYA pun sering kali kulupakan.

Apa yang harus kukatakan, bila suatu hari aku harus bersaksi dan mempertanggung jawabkan segala airmata yang telah kuteteskan di dunia.
Apakah lebih banyak untuk-NYA, atau yang lain?

Jadi untuk kata patah hati..
Benar, perasaanku memang setengah retak ketika mengetahui ada aksara cintamu untuk temanku.
Memang benar, aku tidak pernah mengungkapkan perasaanku padamu, pun yang lainnya. Tidak pernah sedikit pun.
Toh, hal itu akan lebih baik ketika keretakan itu dapat kusimpan sendiri.

Patah hati,
mungkin hal itu lebih pantas kurasakan saat kasih-NYA tak lagi mendekapku.
Saat aku merasa bersalah karena telah mencintai makhluk melebihi cintaku pada-NYA.
Karena sesunggguhnya, DIA’lah cinta yang tak pernah membuat patah hati.